Monday, November 19, 2007
Saturday, November 10, 2007
Keranjang Takakura
Tempo hari, Fajar posted sesuatu mengenai tempat sampah ajaib bernama Takakura. Ini potongan artikelnya...
"Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang “sakti” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.
Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.
Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang “memakan” sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang deikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method” yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura..."
Posted by The Cure For Tomorrow at 5:13 PM 1 comments
Thursday, May 24, 2007
TRAX FM Broadcasters Meeting
Posted by The Cure For Tomorrow at 6:09 PM 4 comments
Thursday, May 17, 2007
Pengelolaan Sampah di Banjarsari
Kertas daur ulang yang dibuat oleh Bu Agustin sendiri
Siang ini, TCFT (diwakili oleh Alanda, Netta, Adit, Anggie & Yura) mengunjungi Kampung Banjarsari, Cilandak Barat, yang beberapa bulan yang lalu mendapat predikat “Kampung Hijau” dari Gubernur DKI Jakarta. Turun dari Apotik Ratna, Cilandak, Anggie pun menjadi tour guide karena ia pernah tinggal di daerah tersebut.
Sightseeing… First impression? Satu kalimat: nggak kayak di Jakarta. Di setiap rumah yang kami lewati memiliki pot-pot besar berisi tumbuhan di depan rumah mereka masing-masing. Di depan rumah Ketua RW, kami bahkan menemukan tiga tabung horizontal dengan tiga warna yang berbeda, untuk membedakan di antara sampah basah, sampah organik dan anorganik. Suasananya berasa seperti di pedesaan, meskipun ada terik matahari, tetapi udaranya terasa sangat sejuk. Satu hal lagi yang membuat kami amazed adalah, tidak ada satupun sampah yang berada di jalanan.
Kami pun mampir ke “Warung Dua Satu”, sebuah rumah di hook, di seberang rumah Pak RW (yang pada saat itu sedang tidak ada di tempat). Kami berkenalan dengan Ibu Agustin Riyanto—sang pemilik rumah, yakni salah seorang warga yang aktif membenahi lingkungan di komplek tersebut. Beliau pun menceritakan asal muasal mengapa kompleks tersebut disebut “Kampung Hijau”.
Pada awalnya memang sudah ada kerjasama dengan Dinas Pertanian, dalam bentuk Kelompok Wanita Tani, di mana warganya diajarkan untuk menanam berbagai macam tumbuhan dan membasmi hama. Setelah itu, tepatnya pada tahun 1998, UNESCO menawarkan kerjasama dan memberikan penyuluhan mengenai penghijauan, pemilahan sampah, dan melatih masyarakat setempat untuk mendaur ulang kertas dan membuat pupuk kompos. Selain itu, Ibu Agustin juga dikursuskan oleh kelurahan tentang jenis-jenis tanaman obat dan cara pengolahannya di Bogor. Alhasil, beliau pun membuka toko tanaman obat di rumahnya. Selain menjual bibit tanaman obat dan pupuk kompos, beliau juga memberi pelatihan daur ulang bagi anak-anak maupun remaja yang berminat mempelajarinya. Seperti mendaur ulang kertas, membuat pupuk cair, dan lain-lain. Kami juga melihat kertas yang dihasilkan oleh beliau, benar-benar mirip seperti kertas HVS, hanya sedikit lebih tebal dan permukaannya agak kasar.
Banjarsari bisa menjadi “Kampung Hijau” karena kesadaran masyarakatnya yang tinggi. 60% penduduk setempat memilah sampah di rumah masing-masing, minimal menjadi dua kategori, yakni organik dan anorganik. Sebisa mungkin, sampah organik mereka jadikan pupuk kompos dengan cara menimbunnya di tanah yang diurug (teknik landfill) dan menyiramkan bahan kimia EM4 untuk menghilangkan baunya. Dalam tiga hari, sampah tersebut sudah bisa digunakan menjadi pupuk kompos. Ibu Agustin bahkan menggunakannya sebagai media tanam untuk menggantikan tanah.
Selain itu, Ibu Agustin juga memberi informasi bahwa di Bekasi ada seorang bapak yang berwirausaha di bidang pengolahan sampah, segala macam jenis sampah bisa ia olah menjadi suatu hal yang berguna untuk dijual, menggunakan alat-alat pencacah yang harganya memang relatif mahal. Ia memulai usahanya dari bawah, sampai sekarang sudah bisa membeli mobil hanya karena menjual hasil daur ulang. Anak-anak Universitas Indonesia (UI) saja membuat dekomposer dengan modal kurang dari Rp50.000,- untuk tugas OSPEK! Jadi sepertinya, penyediaan alat tidak menjadi kendala. Tinggal meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hal ini.
Insya Allah di Bulan Juni mendatang, TCFT akan mengunjungi “Warung Dua Satu” untuk mempelajari teknik daur ulang kepada Ibu Agustin supaya bisa berbagi ilmu kepada sesama remaja dan bahkan menerapkannya di lingkungan sekitar. Supaya tidak hanya Banjarsari yang menjadi “Kampung Hijau”, jadikan Jakarta “Kota Hijau”!
Posted by The Cure For Tomorrow at 6:06 PM 1 comments
Monday, April 16, 2007
TCFT di Majalah Hai
Take a loooooook :)Beli Majalah Hai edisi “S.O.S LINGKUNGAN!” ya. Terbit hari ini (Senin, 16 April 2007). Ada profil TCFT (sejarah, tepatnya), dan ‘wawancara’ sama Aishanatasha dan Chandra.
Posted by The Cure For Tomorrow at 5:57 PM 3 comments
Friday, April 13, 2007
Next meeting?
Posted by The Cure For Tomorrow at 1:04 PM 0 comments
Sunday, August 13, 2006
120806
alhamdulillah gathering pertama yang sederhana kemarin membuahkan hasil. pertemuan ke-2 akan diadakan 2 minggu lagi, tgl 26 Agustus 2006, hari Sabtu juga. tempatnya blm fix, mungkin di perpustakaan lagi, mungkin tidak, akan di update lebih lanjut. doaka! mau tau hasil apa yang dibuahkan? hahaha... tanya langsung aja!
cheers,
Aisha
Posted by The Cure For Tomorrow at 10:42 AM 0 comments
Tuesday, August 08, 2006
Finally, our first (ever) gathering!
TCFT akan mengadakan gathering pertama. Ya, yang pertama :) dukunglah kami -hey, anda yang sudah terdaftar sebagai anggota, kalian wajib datang lho!-
Datang ke:
PERPUSTAKAAN PENDIDIKAN NASIONAL
di Jl.Jendral Sudirman, Gedung A, Lt.1 (samping Ratu Plaza)
Hari Sabtu 12 Agustus 2006
Jam 10am-selesai
untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Aisha 081808941389
Abazh 08161636274
Posted by The Cure For Tomorrow at 9:06 PM 0 comments